14
Dec
09

Apakah obat selalu memberikan efek positif?

Dyah Aryani Perwitasari, M.Si, Apt
Pusat Informasi Obat
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju di abad ini, masyarakat Indonesia semakin mengenal berbagai jenis obat baik modern maupun tradisional. Bahkan dari kenyataan yang ada, masyarakat sudah mulai melakukan pengobatan sendiri (swamedikasi). Informasi mengenai obat yang mereka gunakan bisa berasal dari berbagai media komunikasi, dari teman, bahkan dari berbagai perusahaan multilevel yang bergerak dalam bidang suplemen atau produk herbal. Namun belum tentu informasi yang diberikan tersebut sesuai dengan kondisi tubuh kita sesungguhnya. Tentunya masyarakat mengkonsumsi obat supaya mendapatkan efek positif seperti sembuh dari penyakit dan mencegah penyakit, namun bukti terbaru menunjukkan bahwa obat bisa juga menimbulkan efek yang tidak diinginkan.
Apakah obat selalu memberikan efek positif? ternyata tidak. Penelitian terbaru di Italia ternyata menunjukkan bahwa 5.0% dari 17.083 pasien di rumah sakit mengalami Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD). ROTD yang paling banyak dialami oleh pasien adalah keluhan di saluran pencernaan diikuti oleh gangguan kardiovaskuler, alergi, nyeri kepala, gangguan kesetimbangan elektrolit dan gangguan psikiatri. Kejadian ini dialami oleh pasien di rumah sakit dimana banyak tenaga medis yang bisa mengawasi kondisi pasien. Hal yang perlu kita waspadai adalah, bagaimana dengan swamedikasi? Dengan swamedikasi berarti interaksi masyarakat dengan tenaga kesehatan kurang, apakah ROTD ini bisa dipantau?
Penelitian yang dilakukan di Spanyol tahun 2006 menunjukkan bahwa 25.3% dari 91 pasien yang masuk ke bagian gawat darurat merupakan pasien yang melakukan swamedikasi dan mengalami ROTD. ROTD yang terbanyak adalah urtikaria, diikuti oleh hipoglikemia, gastritis dan anafilaksi. Obat yang paling banyak menimbulkan ROTD adalah antibiotik dan analgetik (penghilang rasa nyeri). Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi ROTD rata-rata 78,1 USD.
Bagaimana dengan di Indonesia? Sampai saat ini, penulis masih berusaha untuk mendapatkan data yang valid sehingga bisa mengungkapkan ROTD di Indonesia Namun data ini bisa diperoleh jika ada kerjasama yang baik dan keterbukaan dari masyarakat pelaku swamedikasi atau selaku pasien, pihak rumah sakit dan pemerintah. Peran serta dari para tenaga kesehatan yang berpotensi di bidang swamedikasi seperti apoteker mestinya juga ditingkatkan, baik itu di apotek maupun di Pusat Informasi Obat yang ada di universitas.
Berbagai penelitian yang sudah ada di Indonesia, menyebutkan bahwa konsumsi antibiotik oleh masyarakat masih cukup tinggi, dan ada juga masyarakat yang menggunakan antibiotik dalam swamedikasi. Hal inilah yang perlu kita waspadai, karena ROTD bisa muncul karena efek obat itu sendiri, atau karena berinteraksi dengan obat lain atau obat tradisional lain yang juga digunakan secara bersamaan.
ROTD dapat terjadi pada siapa saja dari berbagai kalangan tidak membedakan usia, jenis kelamin maupun tigkat pendidikan. Sehingga kesadaran masyarakat dalam melakukan swamedikasi mestinya sejalan dengan edukasi yang baik oleh tenaga kesehatan yang terkait, dalam hal ini apoteker. Peran serta apoteker dalam memberikan edukasi ke masyarakat diharapkan mampu mengurangi atau mencegah kejadian ROTD di Indonesia, sehingga obat yang dikonsumsi oleh pasien benar-benar obat yang memberikan efek positif untuk pasien.


0 Responses to “Apakah obat selalu memberikan efek positif?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: