25
Jan
11

Materi continuing education pertemuan IAI di Temanggung, 22 Januari 2011

Asuhan kefarmasian pada penyakit kronik
Pharmaceutical Care in chronic disease

Dyah Aryani Perwitasari

Asuhan kefarmasian/Pharmaceutical care (PC) adalah tanggung jawab kefarmasian dalam hal pemberian obat kepada pasien untuk mencapai luaran/outcome terapetik tertentu. Outcome terapetik yang dimaksud adalah : menyembuhkan penyakit, menghilangkan atau mengurangi gejala penyakit, menghambat perkembangan penyakit dan mencegah terjadinya komplikasi (Hepler CD, Strand LM, Opportunities and responsibilities in pharmaceutical care. AM J Hosp Pharm, 1990;47:553-543).
Tujuan dari pelaksanaan PC adalah mendapatkan efek optimal obat dengan resiko yang minimal, efektif dari sisi biaya serta dengan menghargai pilihan pasien. Untuk mencapai keempat pilar penting dalam PC tersebut maka apoteker/farmasis harus mendalami masalah obat. Dalam melaksanakan PC, Drug Related Problems (DRPs) tidak akan pernah lepas dari praktek keseharian apoteker. Tugas apoteker yang berhubungan dengan DRPs adalah mengenali adanya DRPs, mencegah terjadinya DRPs potensial dan mengatasi DRPs aktual (Hepler CD, Strand LM, Opportunities and responsibiloties in pharmaceutical care. AM J Hosp Pharm, 1990;47:553-543).

Komponen dari DRPs ada pada Sumber: Tomechko MA, Strand LM, Morley, PC, Cipolle RJ, Q and A from the pharmaceutical care project in Minnesota, Am.Pharm. 1995; NS35(4):30-9

Dari ketujuh DRPs tersebut, poin interaksi obat tampaknya perlu mendapat perhatian lebih dari apoteker karena dapat menimbulkan beberapa DRPs yang akan mempengaruhi efek terapi obat.
Beberapa studi sudah menunjukkan hasil bahwa DRPs akan lebih potensial muncul pada pasien dengan penyakit kronik seperti hipertensi dan Diabetes mellitus. Penggunaan obat jangka panjang akan menimbulkan efek tersendiri bagi pasien, seperti kejenuhan dalam mengkonsumsi obat secara rutin atau bahkan pasien akan mengalami efek samping obat. Beberapa kasus menunjukkan bahwa penggunaan obat antidiabetes oral maupun insulin berpotensi menimbulkan efek hipoglikemia. Dalam hal ini, adanya edukasi kepada pasien mengenai cara penggunaan obat yang benar dan pengatasan munculnya efek hipoglikemia sangat diperlukan oleh pasien saat pasien menerima obat.
Pasien dengan penyakit kanker yang mendapatkan pengobatan dengan sitostatika (kemoterapi), akan mengalami efek samping akibat kemoterapi dalam jangka panjang. Efek samping tersebut bervariasai baik dari sisi jenisnya maupun jangka waktu munculnya efek samping tersebut. Kurangnya edukasi terhadap pasien mengenai efek samping kemoterapi mengakibatkan pasien menolak untuk menjalani siklus kemoterapi yang berikutnya, sehingga tujuan kemoterapi untuk mengatasi penyakit kanker tidak tercapai.
Ada kalanya pasien dengan penyakit kronik akan melihat kemungkinan pengobatan lain selain mengkonsumsi obat dari dokter yang sedang dijalani saat ini. Pengobatan herbal atau pengobatan alternative yang lain sangat marak akhir akhir ini, yang kadang-kadang tidak disertai bukti klinis yang cukup. Kemungkinan terjadinya interaksi obat akibat konsumsi obat sintetis dan obat herbal yang bersamaan menimbulkan problem tersendiri seperti menurunnya efektivitas obat sintetis, terjadinya efek sinergi yang berlebihan atau bahkan munculnya reaksi obat yang tidak diinginkan.
Berikut ini adalah tahap tahap yang sebaiknya dilakukan oleh apoteker pada saat memberikan edukasi kepada pasien dengan penyakit kronik
1. Adanya usaha untuk membuat hubungan yang baik dengan pasien (profesional relationship)
2. Apoteker mengumpulkan informasi medis dari pasien (riwayat penyakit, riwayat pengobatan, riwayat penyakit keluarga, kebiasaan pasien sehari hari) baik dari wawancara maupun rekam medis yang kemudian didokumentasikan dengan baik
3. Apoteker mulai mereview terapi obat yang sesuai dengan kondisi pasien
4. Apoteker memastikan bahwa pasien mendapat informasi dan pengetahuan yang cukup mengenai terapi yang sedang dijalani
5. Apoteker melakukan review dan monitoring efek terapi-efek samping obat yang dialami pasien dari waktu ke waktu
Dengan kata lain, ada 5 kunci kebutuhan pasien akan obat; yaitu: obat yang tepat, obat yang efektif, obat yang aman, ketaatan pasien dan informasi obat yang cukup.
Beberapa problem klinis akan menimbulkan problem tambahan bagi pasien dengan penyakit kronik, sebagai contoh: pasien geriatri dengan penyakit kronik dan mendapatkan lebih dari 3 macam obat ternyata berpotensi mengalami DRPs dan pasien menjalani rawat inap akibat problem tersebut. DRP s yang ditemukan pada pasien geriatric dengan penyakit kronik dan mendapatkan lebih dari 3 macam obat adalah interaksi obat, reaksi obat yang tidak diinginkan, ketidaktaatan pasien dan obat yang tidak efektif lagi. Suatu hasil penelitian di Belanda menunjukkan bahwa terdapat 714 kasus dari 12.793 kasus pasien geriatric rawat inap per tahun akibat penggunaan obat yang tidak tepat dan 332 kasus DRPs diantaranya dapat dicegah (Leendertse AJ, Egberts AC, Stoker LJ, Bemt PM van den. Frequency of and risk factors for preventable medication-related hospital admissions in the Netherlands. Arch Intern Med. 2008;17:1890–1896). Data ini menunjukkan bahwa peran apoteker cukup signifikan dalam mencegah DRPs. Bagaimana di Indonesia? Sejauh ini penelitian hanya menunjukkan tentang DRP yang muncul dari peresepan yang sudah lampau, namun belum meneliti tentang sejauh mana peran apoteker untuk mengatasi DRPs tersebut dan bagaimana efek dari peran apoteker tersebur. Ini adalah peluang baru untuk kita sebagai apoteker di Indonesia.
Bagaimana apoteker bias mengenali pasien yang kemungkinan mempunyai DRPs yang potensial? Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa faktor resiko yang dapat menimbulkan DRPs yang bersifat potensial, antara lain:
1. Pasien dengan resep polifarmasi (pasien mendapatkan lebih dari 3 obat). Polifarmasi ini akan mengakibatkan kemungkinan interaksi obat menjadi lebih besar (Analisis interaksi obat berdasarkan buku Drug Interaction Facts, 2008, Davis S Tatro atau Drug Interaction Checker, ww.Drugs.com)
2. Faktor penyakit kronik, biasanya akan berhubungan dengan jumlah obat yang diperoleh dan kemungkinan terjadinya interaksi obat
3. Faktor usia, faktor ini akan berhubungan dengan kondisi fisiologi dari organ tubuh yang akan berperan dalam proses ADME obat. Pasien anak-anak dan geriatri sebaiknya dilakukan monitor terhadap munculnya ADR. Penyesuaian dosis sebaiknya dilakukan sejak awal
4. Ketidaktaatan pasien. Faktor ini dapat muncul karena adanya efek samping obat, sehingga pasien menolak mengkonsumsi obat
5. Pasien yang dalam masa terapinya diawasi oleh banyak dokter. Kurangnya koordinasi antar dokter dapat menimbulkan munculnya ADR dan obat yang kurang efektif. ADR dapat dilacak menggunakan algoritma Naranjo. ADR sendiri dibedakan menjadi 2 yaitu tipe A (predictable) dan tipe B (unpredictable)
Faktor resiko tersebut diatas ditentukan berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara jumlah obat yang diberikan kepasien dengan meningkatnya jumlah pasien yang menjalani hospitalisasi (Runciman WB, Roughead EE, Semple SJ, Adams RJ. Adverse drug events and medication errors in Australia. Int J Qual Health. 2003;15(Suppl 1):i49–i59). Penelitian lain juga menyebutkan bahwa polifarmasi berpotensi mengakibatkan hospitalisasi, hipoglikemi, perawatan oleh perawat, fraktur, gangguan mobilitas, malnutrisi bahkan samopai kematian (Frazier SC. Health outcomes and polypharmacy in elderly individuals: an integrated literature review. J Gerontol Nurs. 2005;31:4–1 ). Pasien geriatric yang mendapat lebih dari 4 macam komorbiditas juga berpotensi mengalami hospitalisasi (Leendertse AJ, Egberts AC, Stoker LJ, Bemt PM van den. Frequency of and risk factors for preventable medication-related hospital admissions in the Netherlands. Arch Intern Med. 2008;17:1890–1896).

Untuk mengakhiri tema kali ini, ditawarkan beberapa langkah yang mungkin dapat membantu para apoteker dalam menjalankan asuhan kefarmasian pada pasien dengan penyakit kronik, antara lain:
1. Sebelum pasien pulang dengan membawa obat, sebaiknya diperiksa kemungkinan interaksi obat menggunakan literature yang ada
2. Obat yang dibawa pulang sebaiknya langsung diterima oleh pasien sendiri atau keluarga dekat pasien
3. Sertakan leaflet obat sebagai salah satu sarana memberikan informasi obat, selain edukasi kepada pasien/keluarga pasien
4. Yakinkan bahwa pasien paham informasi mengenai obat rutin dan obat yang baru diresepkan
5. Membuat sistem monitoring yang dapat dilakukan oleh apoteker dan pasien secara berkesinambungan
(Ahmad A, Hugtenburg J, Welschen LMC, Dekker JM, Nijpels G, Effect of medication review and cognitive behaviour treatment by community pharmacists of patients discharged from the hospital on drug related problems and compliance: design of a randomized controlled trial, BMC Public Health. 2010; 10: 133)
Jika tahap tersebut dilaksanakan secara rutin, maka apoteker sudah berperan cukup signifikan dalam mengidentifikasi DRPs, mengatasi DRPs aktual dan mencegah DRPs potensial.
Semoga beberapa masukan kali ini dapat membantu para apoteker dalam melaksanakan asuhan kefarmasian di praktek keseharian baik itu sebagai farmasis di komunitas maupun di rumah sakit


0 Responses to “Materi continuing education pertemuan IAI di Temanggung, 22 Januari 2011”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: