01
Sep
12

Metacognitive development oleh farmasi klinis dalam memahami kasus penyakit

Tema tersebut diatas adalah merupaka resume dari partisipasi saya dalam ACCP 12 di Hong Kong, China tahun ini. Semoga bermanfaat dalam meningkatkan ketrampilan farmasis dalam menghadapi kasus pasien.
Sebagai seorang farmasis klinis, mestinya bekal keilmuan patofisiologi penyakit, farmakoterapi, komunikasi sudah tidak diragukan lagi. Namun, masih ada beberapa hal yang perlu kita susun secara sistematis, terutama memahami kasus secara mendalam dan memberikan solusi terbaik untuk pasien. Hampir 80% dari keilmuan ini adalah soft skill, yang artinya harus kita bangun dari diri sendiri, supaya dengan sendirinya akan tertanam dan akan berkembang seiring perkembangan waktu.
Firstly, kita berusaha membuat kasus tersusun secara sistematis dengan format SOAP (subjective, objective, assesment, plan). Yang termasuk dalam subjective adalah keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat pengobatan sebelumnya, riwayat penyakit keluarga, riwayat sosial, riwayat pengobatan termasuk kepatuhan pasien dan gejala yang dialami. Objective meliputi hasil pemeriksaan dan data laboratorium. Sedangkan Assesmen dan Plan merupakan gambaran penyakit pasien, rencana kerja dan terapi yang harus dilakukan berhubungan dengan diagnosis penyakit. Dengan format SOAP ini, farmasis akan lebih terstruktur dalam mempelajari kasus penyakit

Secondly, secara keseluruhan kita harus memahami prerequisite knowledge (farmakoterapi, patofisiologi, komunikasi), Medical terms and abbreviation, Basic organisation of cases (SOAP), Recognize lab and test values, increase the Humanistic skill, Being active as participant and Metacognitive development. Apa saja yang termasuk metacognitive development: Thinking about your own thinking, Reconsider what you think and what you know, Change your thinking
and Question yourself: Why do you think the way that . Jika kita selalu menerapkan metacognitive development, maka kita akan selalu berpikir kritis dalam menghadapi suatu kasus pada khususnya atau permasalahan pada umumnya

Thirdly, setelah kita memahami suatu kasus, maka kita akan berpikir 1. Apa fokus masalah dari kasus ini?
2. Prioritas penanganan
3. Membedakan berbagai etiologi dalam satu kasus
4. Prioritas terapi

Finally:please keep in your mind:
1. The most likely etiology
2. The highest priority treatment
3. NEVER GUESS
Mengapa etiologi menjadi masalah yang harus selalu diingat oleh farmasis dalam mempelajari suatu kasus? Karena dari etiologi tersebut dapat muncul satu atau lebih dari satu diagnosa yang pada akhirnya akan menimbulkan polifarmasi.

Sebagai reminder, seorang farmasi klinis harus selalu menanyakan beberapa hal berikut ini kepada diri sendiri:
1. Is the information or data true?
2. Can I rely on the information or data enough to aplly to patient care?
3. What is the source of information?
4. The reliability of soure of information?
5. How should the information be applied?

Menjadi seorang farmasi klinis tidak mudah, begitu banyak penyakit dan variasi biologis yang membuat kita harus memandang kasus dari sisi individual. Sudah saatnya, seorang farmasis di indonesia mulai berpikir mengenai individualisasi terapi. Kolaborasi farmasis di area praktisi dan akademisi seharusnya menjadi semakin kuat, mengimbangi perkembangan informasi dan keilmuan yang semakin pesat.
Sukses untuk farmasis di Indonesia
dy


0 Responses to “Metacognitive development oleh farmasi klinis dalam memahami kasus penyakit”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: