Aku lahir di Semarang,kota yang terkenal dengan panasnya di Jawa Tengah, tanggal 30 April 1976. Pada saat lahir pun beberapa cobaan sudah tampak secara fisik di tubuhku. Aku mengalami kelainan fisik, yang Alhamdulillah sampai saat ini tidak menghambat aktivitasku, dan tidak banyak orang yang tahu. Hal ini karena orang tuaku yang ikhlas menerimaku dan tidak pernah membedakan aku dengan saudaraku. Mereka memberikunama Dyah yang artinya putri, Aryani adalah nama keluarga yang berasal dari kata Ardi artinya gunung, karena orang tuaku menginginkan anaknya menjadi orang yang tertinggi. Perwitasari adalah nama yang paling kusukai karena merupakan air suci yang dijadikan sebagai obat untuk istri Bima (tokoh pewayangan), yang diambil dari dasar laut dengan penuh perjuangan. Orang tuaku menginginkan aku menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, Amin…Sungguh aku bangga dengan nama itu, meskipun dengan kondisi fisik seperti ini, namun, orang tuaku masih sangat membanggakan aku dengan nama yang mereka berikan.

Ayahku seorang pekerja keras, sehingga beliau jarang menemani anaknya di rumah. Kami selalu bersama ibu, yang mendidik kami dengan disiplin dan memberikan nilai kehidupan yang berharga. Ayah ibuku selalu berpindah tempat, karena tuntutan pekerjaan.

Pendidikan sekolah dasar ku diawali dengan SD Katholik sampai aku lulus SD, sehingga aku sempat mengenyam pendidikan Katholik dan ada beberapa hal yang bisa aku ambil manfaatnya sampai saat ini, misalnya kedisiplinan, empati dan tentu saja latihan musik dan menyanyi. Namun orang tuaku juga memanggil guru mengajisetiap sore, supaya aku tetap mendapatkan pendidikan agama islam walaupun di rumah

Mulai AMP,pendidikan agama Islam di sekolah benar benar aku jalani. Namun karena Bapak dan Ibu selalu berpindah tempat, maka sejak SMP aku mulai dititipkan ke eyang di Yogyakarta. Dari sinilah , kemandirian dalam kehidupanku berawal.

Masalah dalam pergaulan, persahabatan harus aku hadapi sendiri, dan cukup membuatku bingung karena Yogyakarta merupakan kota besar untukku. Teman2x smp ku sudah mengenal diskotik, drugs, sex bebas yang cukup menakutkan untukku. Tapi ternyata disini yang notabene kota pelajar, sudah biasa. Aku harus pandai-pandai mencari teman, supaya tidak ikut masuk dalam pergaulan seperti itu.

Pada masa kuliah di fakultas farmasi UGM aku mulai mendapatkan seseorang yang bisa menjadi sahabat bagiku pada saat itu, tapi ternyata hanya sesaat dan berakhir dengan pengkhianatan yang cukup dalam untukku. Namun Allah SWT sangat melindungi aku, sehingga aku cukup kuat didampingi teman2x dan keluarga dekatku, Alhamdulillah.

Saat KKN, aku menemukan teman yang sangat baik dan pekerja keras. Alhamdulillah sampai saat ini menjadi pendampingku dan untuk seterusnya.Amin…

Nurudin Araniri, SPt, ME, nama suamiku. Kami menjalani rumah tangga di usia muda, kurang dari 24 tahun, dan segala sesuatu mulai dari nol, baik dari sisi materi, maupun batin. Pernikahan kami cukup rumit, di usia pernikahan 4 bulan, aku sudah mengalami keguguran, yang diduga dokter karena infeksi toksoplasma. Sehingga aku harus menjalani terapi dengan obat yang cukup mahal. Namun, alhamdulillah, kami bisa mengatur keuangan cukup baik

Aku mendapat pekerjaan sebagai Apoteker di Wonosari. Kami harus berhemat, pindah ke kontrakan yang murah dan sederhana, supaya tidak menghabiskan uang untuk transport ke tempat kerja. Alhamdulillah, aku hamil anak pertama dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain sebagai tenaga edukatif di sebuah perguruan tinggi swasta.

Aku diterima bekerja di perguruan tinggi itu dan alhamdulilllah anakku lahir selamat  dan sehat, perempuan (Melodia Rezadhini) dengan operasi. Keadaan ekonomi kami mulai membaik, dan kami kembali mencari tempat tinggal di daerah yogyakarta, untuk mendekati tempat kerjaku, karena pada saat itu anakku masih kecil. Kami bisa meng kredit rumah dengan bantuan dana dari orang tua kami.

Setelah kami tinggal di Bantul, ternyata aku hamil kedua ketika anakku yang pertama baru berusia 6 bulan. Bayangan operasi yang kedua kembali menghantuiku, sehingga kami harus mempersiapkan  keuangan yang cukup untuk operasi kedua. Saat itu aku jugamendapat kesempatan untuk meneruskan pendidikan S2

Kembali anakku kedua (Abram Uberallsyah), lahir sehat dan selamat dengan operasi, kami terpaksa mengambil dua pengasuh, karena anak2x masih sangat kecil dan kami harus bekerja keras untuk itu.

Saat usia Abram 10 bulan, dia mengalami kejang, dokter  mengatakan Abram terkena meningitis, dan tidak ada harapan hidup lagi, seandainya bisa bertahan, dia akan mengalami cacat. Aku hanya bisa berserah kepada Allah, namun tampaknya suamiku berat menerima berita itu. Memang 12 jam setelah kejang, Abram meninggal..

Aku berkeras untuk menggendongnya dan memandikan sebelum dimakamkan, suamiku yang menggendongnya ke pemakaman. Kami berusaha tegar, karena kami masih mempunyai mutiara lagi yang harus kami perhatikan, Melodia.

Beberapa saat setelah Abram meninggal, aku berniat untuk segera menyelesaikan sekolahku. Alhamdulillah aku bisa meraih master dalam waktu 2 tahun.

Setelah aku selesai sekolah S2, ternyata aku hamil ketiga, kami segera bersiap untuk operasi lagi yang ketiga. Alhamdulillah kami dikaruniai lagi putra, Ridlo Ifran Addiasar.

Selepas S2, aku konsentrasi ke pekerjaanku dan mulai mencari kenaikan pangkat dengan mengajar, penyuluhan dan menghadiri seminar. Alhamdulillah aku berkesempatan untuk menghadiri seminar di Thailand, Singapura dan mengikuti praktek klinik di Malaysia, sehingga wacana kefarmasianku semakin bertambah.

Setelah anak anak besar , suamiku melanjutkan pendidikan S2 dan saat itu juga aku melanjutkan sekolah S3.

Saat ini suamiku selesai sekolah S2,dalam waktu 1.5 tahun. Namun aku masih menyelesaikan kuliah S3 di FK UGM dan Leiden University Medical Centrum.

Usaha unutk bisa sekolah di LUMC Belanda, bukanlah hal yang mudah, aku harus mengikuti kursus toefl selama 4 bulan setiap malam. Aku harus mencari supervisor sendiri, meminta LOA, sampai akhirnya LOA dari supervisorku aku kirimkan ke DIKTI untuk mencari Sandwich program. Tak lepas dari bantuan kakakku yang sudah lebih dahulu berangkat ke Jerman dan juga suamiku yang saat itu sedang di Jakarta, akhirnya beasiswa DIKTI aku dapat untuk pergi ke belanda selama 4 bulan. Alhamdulillah…

Namun pilihan lagi saat itu, aku sudah ingin menunaikan haji, karena aku merasa sudah mampu. Pada tahun itu juga, aku harus berangkat ke Belanda, sungguh suatu pilihan yang membingungkan. Beberapa orang yang aku mintai saran, menyarankan untuk ke belanda dulu, karena itu kesempatan yang mungkin tidak bisa aku peroleh lagi, sedangkan haji masih bisa tahun depan. Hati kecilku berontak atas saran-saran tersebut. Akhirnya aku menemui pembimbingku di FK UGM, dan beliau menekankan, bahwa aku tidak boleh mengingkari janji dengan Allah, Astaghfirullah…aku seperti digugah dari kebodohanku. Aku kembali memantapkan haji.

Alhamdulillah ibadahku lancar dan seminggu setelah kembali ke tanah air aku berangkat ke belanda. Suatu hadiah dari Allah yang tidak aku duga, beasiswa DIKTI hanya aku peroleh selama 4 bulan, dan aku mengajukan lagi ke Nuffic, Alhamdulillah, aku dapatkan lagi beasiswa itu untuk 3 tahun. Inilah rizki dari Allah, ketika aku tidak mengingkari janjiku.

SAmpai saat ini aku masih pulang pergi ke Belanda untuk mengerjakan penelitian dan analisis serta menyelesaikan beberapa kursus wajib. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan kemudahan di setiap langkahku..dan keluargaku, Amin…

Dalam perjalanan karier dan studiku, aku banyak melakukan perjalanan. Perjalanan tersebut akan aku ceritakan di bagian journey


10 Responses to “Tentangku”


  1. 1 irwan
    December 21, 2009 at 5:50 am

    assalaamualaikum..wr.wb

    puisimu yg berjudul “aku menangis”..itu bagus banget..sering aku berada dalam posisi yg spt itu..sering aku mengeluh..tapi saya pikir nggak ada gunanya,nggak ada tg bakalan mendengar dan menolong..selain Allah SWT..berusaha sebaik mungkin ..hasilnya pasrahkan kepadaNYA..ditakdirkan jadi apa..dan bagaimana..kita sdh menjalankan perintahNYA dengan sebaik mungkin..itu saja.

    wassalaam..

    your friend.
    irwan

    • December 28, 2009 at 3:23 pm

      ya, wan, akhir-akhir ini sering ngerasa kayak gitu, cuman kukembalikan ke Allah, seandainya memang ilmu ku tidak bermanfaat, paling tidak sekedar membuka pengetahuan Indonesia mengenai kefarmasian di luar

  2. 3 deni hendraswati
    February 20, 2010 at 7:21 am

    Assalamu’alaikum
    bu…saya baru tahu kalau ibu juga terkena toxo.
    saya sndr juga kena rubella dan cmv.
    hingga saat ini mejelang 5th pernikahan kami blm py keturunan..
    mohon rekomendasi SpOG dari ibu…
    terimakasih

    • February 24, 2010 at 5:54 am

      kita harus bisa beradaptasi dengan infeksi ini, karena itu seumur hidup. Pikiran positif akan membuat kekebalan tubuh kita meningkat, sehingga infeksi jarang termanifest. Kemarin saya ke dr Kasirun, Sp OG untuk masalah ini. sukses ya

  3. 5 edy
    November 30, 2011 at 7:09 am

    Ass wr. wb

    Alhamdulillah pagi ini saya bisa berkunjung ke web Ibu.
    Saya Edy. Saya mahasiswa S2 FEB UGM dan ingin menulis tesis HRQOL dengan menggunakan data IFLS. Kebetulan saya tahu banyak tentang data IFLS karena saya terlibat langsung dalam pengumpulan data ini sejak 1997 dan sekarang sebagai staff peneliti di SurveyMeter ( http://www.surveymeter.org) .

    Apakah saya bisa mendapatkan bahan-bahan ( buku atau bacaan , maaf dalam bahasa Indonesi tentang HRQOL? Kalau paper sudah saya dapatkan dari jurnal di kampus).

    Bisakah saya kontak ibu lewat email.

    Mks
    Wassalam wr wb

    Edy

  4. 8 Ihsan
    January 17, 2014 at 7:27 pm

    Tulisannya sungguh menggugah hati bu..saya orang semarang..dengan membaca tulisan ibu ini membuat semangat pada diri saya untuk terus berusaha menjadi lebih baik. . . .

    • January 19, 2014 at 9:23 pm

      Terima kasih mas Ihsan..maaf sekali kalau responnya lama, karena kesibukan administratif yang memang pada akhirnya mengurangi kesempatan menulis saya di blok. Alhamdulillah jika tulisan ini bisa bermanfaat. Sukses untuk anda

  5. 10 Emelia
    August 20, 2015 at 12:15 pm

    Cerita dan pengalaman ibu benar2 memberikan inspirasi.
    Saya emmelia bu, mahasiswa magister keperawatan FK UGM. saya saat ini sedang mengerjakan tesis saya tentang kualotas hidup pasien kankerserviks pasca kemoterapi. Saya menggunakan jurnal2 yang ibu publikasikan sebagai bahan referensi saya. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan terkait salah satu jurnal penelitian ibu. Saya sudah mengirim email ke email ibu.
    selain itu, apakah ibu ada buku yang bisa direkomendasikan ya bu? Terima kasih sebelumnya bu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: